Filosofi Jembatan



Filosofi Jembatan


Di sadur dari buku “SERAMBI: Belajar dari Tanah Kelahiran”
Penulis : H. Indra Muchlis Adnan, SH, MH, MM 



     Setiap orang yang baru pertama kali ke Tembilahan, kesan pertamanya pastilah seputar jembatan. “Oh, banyak sekali jembatannya.” Karena itu negeri kita yang terletak diujung Selatan Provinsi Riau digelar negeri seribu Parit.
     Bagaimana tidak, sampai tahun 2004, ada 695 buah jembatan dengan panjang bentangan 17.256 meter. Jika dirata-ratakan setiap jembatan panjangnya 24, 8 meter. Jumlah ini belumlah cukup untuk menghubungkan pulau, dusun, desa dan kecamatan di Indragiri Hilir. Andapun dapat membayangkan berapa banyak jembatan yang harus dibangun dan dirawat setiap tahunnya. Berapa panjang bentangan jembatan, mulai dari yang ukuran 1 meter sampai 1 kilometer.
     Mengapa jembatan? Selama ini dapat disebut masyarakat Indragiri Hilir adalah penduduk pulau, yang terpisah satu dengan yang lain. Sehingga membentuk komunitas-komunitas kecil yang tersebar. Dapat dibayangkan bagaimana sulitnya untuk bersilaturahmi. Jika ingin bertemu, harus melalui atau menyeberangi sungai. Jika air surut tak jarang harus bersampan diatas lumpur (sungai luar).
     Jembatanlah yang dapat menganyam, merajut, merangkai, menyambung dan menyatukan pulau-pulau, dusun, kampung, desa, dan kecamatan di negeri Sri Gemilang. Jembatanlah yang dapat mengantarkan penduduk kampung untuk berhubungan dengan penduduk lain yang berada diluar pulau. Jembatanlah yang membuka isolasi dan keterasingan. Jembatanlah yang akan mengantar orang-orang dan hasil-hasil bumi dengan cepat. Jembatanlah yang akan membuat murah biaya transportasi masyarakat.
     Jembatan memiliki arti filosofi yang luas dan kokoh. Kita memang harus membangun “jembatan”. Sebab, jembatan memberi arti bagi kita yakni memberikan kesempatan atau membuka hubungan seluas-luasnya dengan semua pihak dalam melaksanakan program pembangunan. Dalam konsep pembangunan Indragiri Hilir kita tidak membangun “tembok”. Artinya pembangunan yang membatasi diri, ekslusif atau hanya untuk kelompok atau daerah tertentu. Melainkan adanya pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya.
     Karena itu, makna “jembatan” harus menjadi warna dalam setiap gerak dan kerja aparatur pemerintahan. Makna “jembatan” harus memberikan keyakinan dan kekuatan kepada pelaksana pembangunan bahwa apa yang diprogramkan dan dikerjakan benar-benar untuk kesejahteraan rakyat. Seperti kokohnya tiang-tiang penyangga jembatan yang berdiri di arus deras Sungai Indragiri, Sungai Batang Tuaka, Sungai Gergaji dan sungai-sungai lainnya..

Di publish oleh www.tauhidremajaislam.blogspot.co.id

Founder,


Zulrahmadi


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta, Restu dan Waktu

Sosmed For Dakwah