Cinta, Restu dan Waktu
Cinta, Restu dan Waktu
Ada sebuah kisah, tentang seorang pemuda sederhana, seorang lulusan sarjana dinegeri antah berantah. Pemuda ini begitu banyak mengalami lika-liku kehidupan yang terjal. Penuh dengan kesalahan, penuh dengan gelimang dosa, penuh dengan kebimbangan. Hampir tiba sebuah bisikan kepada dirinya, mengapa tidak kau akhiri saja kehidupan ini?...
Sang Pemilik Kehidupan berkata lain, pemuda itu dipertemukan dengan 2 orang ahli spiritual, keduanya memiliki kelebihan masing-masing, satu ahli hadits dengan pemahaman yang lurus, satunya lagi seorang salik Tuhan yang Mursyid. Dalam perjalanan hijrahnya tersebut, tidak lah semudah yang ia pikirkan dan harapkan, sesuai dengan Firman Allah Q.S 29:2-3.
[29:2] Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?
[29:3] Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta
Ujian datang kepadanya silih berganti. Benar kata pepatah, Memulai itu mudah, mempertahankan dan menjalankan secara konsisten itu tidak mudah. Begitu sulitnya ia untuk istiqomah, hingga terjadilah pada dirinya kembali dalam keadaan terkadang taat, terkadang maksiat, Maksiat tobat - maksiat tobat. Sudah berapa ratus kali Tuhan Nya di permainkan oleh pemuda itu, tak terhitung bagai buih dilautan. Ibadah Wajib dari Syariatnya dilakukan, disamping itu maksiatpun tetap dijalankan, begitulah kehidupan pemuda itu hingga sampai detik ini, sekejap taat, sekejap maksiat, sebulan taat, sebulan maksiat. Mungkin saja tuhan mulai bosan, dan pemuda ini di skip dari perhatian? Wallahu'alam.
Pemuda tersebut termasuk kedalam golongan orang-orang yang fasik. Dia mengetahui perkara agama yang kuat, belajar ilmu salik tapi masih tetap bermaksiat. Lantas kemanakah sholat yang ia lakukan? bukankah sholat itu mampu mencegah dari perbuatan fahsya' wal munkar?.
Sholat memang terbukti mampu mencegah dari perbuatan maksiat, tapi tidak bagi pemuda itu, karena ia nya tergolong orang-orang yang fasik, sehingga Allah tak memberikan hidayah lagi kepadanya.Nauzubillah mindzalik.
...
Hidup di akhir zaman era teknologi informasi yang berkembang pesat, sehingga gelombang informasi pun tak mampu terbendung memasuki pelosok-pelosok negeri, ibukota hingga desa-desa disuguhkan dengan service provider yang mumpuni. Segenap operator selular memberikan penawaran yang menggiurkan, belum lagi perangkat smartphone yang menjamur seperti dimusim hujan, dengan harga yang murah meriah. Segala perkembangan teknologi itu telah mampu menenggelamkan pemuda akhir zaman tersebut. Berbagai macam bentuk kejadian disuguhkan lewat genggaman tangan, seluruh informasi tentang dunia dapat dipegang dalam genggaman tangan. Pemuda tersebut adalah bagian dari korban kekejaman teknologi informasi. Game Online, Media Sosial, hingga tayangan pornografi sangat mudah diakses. Kesemua itu mampu mengrogoti kealiman Pemuda Akhir Zaman. Ia pun terkincah dalam kubangan genggaman tangannya.
hingga lelah dirinya, hingga malu muka nya berjumpa tuhan, hingga hampir hilang asa.
Mampukah ia kembali menuju Tuhan-Nya dengan qalbin saliim? dengan tiada dosa dan peroleh ampunan-Nya?...
Wallahu'alam, hingga saat ini ia masih bernafas dalam aroma percampuran kehidupan.
Continue to next part.
*ZR


Komentar
Posting Komentar